Postingan

Featured Post

Tiga skenario masa depan protes Iran: Akankah tertulis lembar sejarah baru?

Gambar
Gelombang protes di Iran sejak 2022, yang dipicu oleh kematian Mahsa Amini, telah menjadi salah satu gerakan sosial paling signifikan dalam sejarah kontemporer negara tersebut. Slogan “woman, life, freedom” menggema di jalan-jalan, menandai perlawanan terhadap represi politik, sosial, dan budaya.  Lalu 2 minggu belakangan (Sejak 28 Desember 2025) gelombang protes baru terus meluas ke seluruh kota di Iran. Protes ini belum ada tanda-tanda akan surut. Namun, pertanyaan besar tetap menggantung: apakah protes ini mampu mengguncang fondasi pemerintahan Iran, atau justru akan meredup seperti gerakan-gerakan lain sebelumnya? Untuk menjawabnya, kita perlu melihat tiga kemungkinan skenario: fragmentasi berkelanjutan , munculnya kepemimpinan simbolik , dan pembentukan koalisi lintas kelompok . Agar analisis lebih tajam, kita juga akan membandingkan dengan kasus-kasus sejarah lain: Hong Kong 2019, Mesir 2011, Occupy Wall Street 2011, dan Polandia 1980-an. Skenario 1: Fragmentasi berkelanjuta...

Ideologi yang mematikan ekonomi: Kegagalan sistemik teokrasi Iran

Gambar
Dalam pekan terakhir ini, jalanan di berbagai kota besar di Iran, mulai dari Teheran , Mashhad , hingga Isfahan , kembali menjadi saksi bisu kemarahan rakyat yang meluap. Gelombang protes massa yang pecah kali ini membawa pesan yang jauh lebih tajam dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Awalnya, keresahan dipicu oleh persoalan "perut" seperti kenaikan harga gandum yang melonjak drastis, kelangkaan obat-obatan , dan nilai mata uang yang tak lagi memiliki daya beli. Namun, dalam waktu singkat, narasi protes tersebut bertransformasi menjadi gugatan terhadap legitimasi sistem pemerintahan. Fenomena ini mencerminkan sebuah krisis sosial-politik yang bersifat eksistensial bagi Republik Islam Iran . Apa yang kita saksikan hari ini adalah akumulasi dari rasa frustrasi kolektif rakyat terhadap model teokrasi absolut yang telah mencengkeram negara tersebut sejak Revolusi 1979 . Ketegangan ini bukan sekadar riak politik biasa, melainkan cerminan dari kegagalan sistemik di mana ideolog...

Otoritarianisme - Totalitarianisme: Kekuasaan absolut yang membelenggu kebebasan

Gambar
Dalam diskursus politik, demokrasi sering digambarkan sebagai sebuah sistem yang memberi ruang bagi setiap individu untuk bersuara. Namun, di ujung spektrum yang berlawanan, terdapat dua ancaman yang sangat berbahaya: otoritarianisme dan totalitarianisme .  Meskipun keduanya sering dianggap sama, masing-masing memiliki cara yang berbeda dalam mengikis hak-hak sipil dan menghancurkan pilar-pilar demokrasi. Memahami perbedaan: Otoriter vs. totaliter Sebelum masuk ke dalam bahayanya, kita perlu memahami apa yang membedakan keduanya: 1. Otoritarianisme: adalah sistem di mana kekuasaan politik dipusatkan pada satu pemimpin atau elit kecil yang tidak bertanggung jawab kepada rakyat. Fokusnya adalah pada kontrol politik. Selama rakyat tidak menentang pemerintah secara terbuka, mereka mungkin masih memiliki sedikit kebebasan dalam kehidupan pribadi atau ekonomi. 2. Totalitarianisme: adalah bentuk yang lebih ekstrem. Negara tidak hanya mengontrol politik, tetapi juga seluru...

Fasisme-Ultranasionalisme: Identitas bangsa yang menjelma jadi tirani

Gambar
Dalam sejarah politik dunia, tidak ada ideologi yang lebih identik dengan kehancuran sistemik selain fasisme. Muncul di awal abad ke-20 sebagai reaksi terhadap ketidakpastian ekonomi dan politik pasca- Perang Dunia I , fasisme dengan cepat mengubah negara-negara beradab menjadi mesin kekuasaan yang kejam.  Namun, bahaya fasisme tidak berhenti di buku sejarah; benih-benih ultranasionalisme yang mendasarinya masih sering muncul kembali dalam wajah politik kontemporer. Apa itu fasisme? Fasisme adalah ideologi politik radikal yang mengutamakan bangsa atau ras di atas kepentingan individu. Fasisme bukan sekadar nasionalisme biasa yang mencintai tanah air, melainkan ultranasionalisme yang agresif. Dalam pandangan fasis, negara adalah segalanya, dan individu hanya memiliki arti sejauh mereka melayani negara. Tokoh-tokoh fasisme terkenal dalam sejarah adalah Adolf Hitler (Jerman), Benito Mussolini (Italia), Francisco Franco (Spanyol), dan Hideki Tojo (Jepang). Ambisi para fasis tersebu...

Hati-hati! Suara rakyat bisa jadi senjata pelumpuh demokrasi

Gambar
Dalam beberapa dekade terakhir, fenomena politik global telah diguncang oleh bangkitnya sosok-sosok pemimpin yang mengklaim sebagai satu-satunya penyambung lidah rakyat. Mereka datang dengan janji untuk menghancurkan "elit yang korup" dan mengembalikan kekuasaan ke tangan rakyat jelata. Fenomena ini kita kenal sebagai populisme .  Namun, ketika populisme bergeser menjadi populisme ekstrem, ia bukan lagi sekadar gaya kampanye, melainkan ancaman eksistensial bagi fondasi demokrasi itu sendiri. Apa itu populisme ekstrem? Secara sederhana, populisme adalah ideologi yang membagi masyarakat menjadi dua kelompok yang saling bertentangan: "rakyat yang murni" melawan "elit yang korup".  Populisme itu sendiri sebenarnya bisa menjadi vitamin bagi demokrasi karena ia membawa isu-isu yang diabaikan oleh penguasa ke permukaan. Namun, populisme menjadi ekstrem ketika mulai bersifat eksklusif dan otoriter. Populisme ekstrem tidak hanya menyerang elit, tetapi juga me...

Pola pikir ideologis menentukan kita jadi pembangun atau penghancur bangsa

Gambar
Pernahkah Anda bertanya-tanya mengapa dua orang dapat melihat satu peristiwa yang sama namun memberikan reaksi yang bertolak belakang? Mengapa bagi sebagian orang, kenaikan pajak adalah bentuk keadilan sosial, sementara bagi yang lain itu adalah perampokan terhadap hak individu? Atau mengapa dalam sebuah isu lingkungan, ada yang melihatnya sebagai panggilan moral yang mendesak, sementara yang lain menganggapnya sebagai hambatan bagi kemajuan ekonomi? Perbedaan fundamental ini jarang sekali berakar pada sekadar perbedaan data atau informasi. Perbedaan ini berakar pada sesuatu yang lebih dalam, lebih sunyi, namun sangat kuat: "ideologi" . Secara harfiah, ideologi adalah "ilmu tentang gagasan." Namun dalam realitas praktis, ideologi bertindak sebagai arsitektur pemikiran, yaitu sebuah cetak biru yang menentukan bagaimana kita memproses informasi, menilai benar dan salah, hingga memutuskan tindakan apa yang harus diambil. Ideologi1 adalah kacamata yang kita gunakan untu...

Bahasa Dayak dan ketiadaan kata 'Terima Kasih': Ini kerangka untuk mencari jejaknya dalam tradisi

Gambar
Dalam masyarakat modern, ucapan terima kasih (terima kasih verbal) adalah 'mata uang' kesopanan. Namun, kata itu tak ditemukan pada banyak bahasa Dayak di Kalimantan.  Apakah mereka tidak tahu berterimakasih, tidak tahu balas budi dan tidak tahu tata krama?  Tulisan ini berangkat dari sebuah kegelisahan akademis sekaligus kultural: Benarkah kebanyakan bahasa Dayak tidak memiliki kata leksikal khusus untuk "terima kasih"? Jika benar, mengapa? Apakah budaya ini kekurangan kosakata positif? Di era modern ini, di mana interaksi verbal menjadi penentu relasi sosial, perlukah orang Dayak menggali dari tradisi sebuah kata yang bermakna terima kasih dan menyepakatinya untuk pemakaian sehari-hari? Tentu termasuk responnya juga.  Ketiadaan ucapan terima kasih Dalam struktur sosial masyarakat Dayak tradisional, konsep "berterima kasih" tidak dimanifestasikan melalui leksikon (kata-kata), melainkan melalui aksi dan gestur (isyarat). Secara historis, masyaraka...

Speedboat ke pedalaman Mahakam

Speedboat ke pedalaman Mahakam
Martinus Nanang di dermaga Samarinda Ilir